KATATIVI.COM:Â Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, emas selalu berhasil membuktikan perannya sebagai pelabuhan terakhir paling aman bagi para investor.
Karakteristik pelindung nilai (safe haven) inilah yang berhasil dikapitalisasi dengan apik oleh PT Pegadaian. Memasuki usia ke-125 tahun, Pegadaian semakin lincah dan mencatatkan performa bisnis yang luar biasa di awal tahun 2026.
Berdasarkan laporan kinerja per 30 April 2026, PT Pegadaian secara nasional sukses membukukan laba bersih sebesar Rp4,38 triliun.
Angka ini melonjak tajam sebesar 87,2 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu Rp2,34 triliun. Performa gemilang ini juga tecermin dari realisasi total aset perusahaan yang kini menyentuh Rp183,8 triliun, atau tumbuh 56 persen secara tahunan.
BACA JUGA:Â Pegadaian Jawa Barat Salurkan Bantuan Serentak ke Panti Sosial
Pertumbuhan aset yang masif tersebut disokong kuat oleh pencapaian Outstanding Loan (OSL) gross yang melesat ke angka Rp153,6 triliun.
Menariknya, lonjakan pertumbuhan yang agresif ini tidak membuat Pegadaian mengabaikan aspek kehati-hatian. Di tengah ekspansi bisnis yang cepat, manajemen risiko perusahaan justru semakin sehat dan pruden.
Hal ini dibuktikan dengan penurunan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara signifikan, dari 0,82 persen pada April tahun lalu menjadi hanya 0,51 persen pada periode yang sama tahun ini.
Dirut PT Pegadaian Damar Latri Setiawan, menegaskan bahwa pencapaian impresif ini merupakan buah dari dedikasi seluruh Insan Pegadaian serta kepercayaan nasabah yang terus terjaga kuat.
“Kunci eksistensi Pegadaian terletak pada kemampuan perusahaan untuk terus bertransformasi mengawinkan aspek digital dengan kebutuhan riil masyarakat,” kata Damar.
Langkah ini diwujudkan melalui kehadiran komoditas anyar seperti layanan Bulion serta kemudahan bertransaksi lewat aplikasi Tring! yang diharapkan mampu menjadi lokomotif baru untuk mempermudah lintas generasi dalam berinvestasi dengan aman. Sinyal positif dari tingkat pusat ini ditangkap dengan sangat baik di daerah.
Kontribusi PT PegadaianÂ
PT Pegadaian Kanwil X Jawa Barat turut berkontribusi nyata dalam memperkuat ekosistem bisnis perusahaan. Karakter masyarakat Jawa Barat yang dinamis dan semakin melek digital menjadi katalis utama pertumbuhan di wilayah ini.
“Transformasi digital lewat aplikasi Tring! serta antusiasme tinggi warga terhadap investasi emas berhasil mendorong kinerja kanwil ke arah yang sangat positif,” kata dia.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil X Jawa Barat, Eko Supriyanto mengapresiasi capaian kolektif seluruh tim di Jabar yang bekerja keras memberikan layanan terbaik. Eko melihat bahwa kinerja positif ini adalah cerminan dari kepercayaan masyarakat Jawa Barat yang semakin tinggi terhadap produk-produk Pegadaian.
Pihaknya berkomitmen untuk terus mendekatkan diri dengan nasabah, tidak hanya melalui jaringan outlet yang tersebar luas, tetapi juga melalui integrasi layanan digital.
Di wilayah Jawa Barat, edukasi mengenai pentingnya emas sebagai investasi jangka panjang dan kemudahan akses melalui layanan Bulion kini menjadi fokus utama. Edukasi ini menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari para pelaku UMKM yang membutuhkan likuiditas hingga investor ritel yang ingin mengamankan portofolio keuangan mereka.
Langkah Pegadaian kini memang telah bergeser jauh melampaui bisnis gadai konvensional. Sebagai pelopor perusahaan yang telah resmi mengantongi izin operasional kegiatan usaha bulion atau Bank Emas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pegadaian kini menghadirkan portofolio Bulion Services terlengkap.
“Layanan ini mencakup Deposito Emas, Pinjaman Modal Kerja Emas, Jasa Titipan Emas Korporasi, hingga Perdagangan Emas,” kata Eko.
Dengan rekam jejak panjang, infrastruktur keamanan berstandar internasional, serta pengawasan ketat dari regulator, PT Pegadaian optimistis dapat terus memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap roda perekonomian nasional.
Melalui penetrasi yang kuat di wilayah-wilayah strategis seperti Jawa Barat, misi jangka panjang untuk “MengEMASkan Indonesia” bukan lagi sekadar visi di atas kertas, melainkan sebuah realitas ekonomi yang sedang diwujudkan.
(LIN)