KATATIVI.COM: Deretan radio jadul dengan desain klasik berjajar rapi, sebagian masih memancarkan suara hangat khas masa lalu. Pengunjung yang datang tampak tak sekadar melihat, tetapi juga mengenang.
Pameran radio antik yang digelar dalam program Bandung Kota Cerita menghadirkan pengalaman unik ‘menyusuri perjalanan sejarah melalui gelombang suara’.
Kegiatan ini menjadi bagian dari sinergi Pemerintah Kota Bandung dalam menghadirkan ruang literasi publik yang berbeda.
BACA JUGA: Ledia Usul Sekolah Swasta Jadi Solusi PPDB Bandung
“Bertepatan dengan peringatan Hari Radio Dunia, tema radio dipilih sebagai simbol perjalanan panjang media penyiaran yang pernah menjadi sumber informasi utama masyarakat,” kata Inisiator pameran radio Deni Kusumah, Kamis (12/2/2026).
Program Bandung Kota Cerita sendiri kini memasuki pelaksanaan keempat sejak pertama kali digelar pada triwulan keempat tahun 2025.
Pada edisi ini, nostalgia dan edukasi berpadu melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas radio antik, museum, serta para kolektor yang membawa koleksi langka mereka.
Sekitar 50 radio antik dipamerkan, dengan rentang produksi mulai dari tahun 1901 hingga 1956. Setiap unit menyimpan cerita, ada radio buatan Eropa dari Jerman dan Belanda, hingga radio merek Ralin singkatan dari Radio dan Listrik Negara yang menjadi bukti jejak industri dalam negeri di masa lampau.
Bagi sebagian pengunjung, melihat radio-radio ini seperti membuka album kenangan. Tombol analog, speaker kayu, hingga desain retro membawa suasana yang sulit ditemukan pada perangkat digital masa kini.
Tak hanya dipamerkan, beberapa koleksi juga tersedia untuk dijual. Menurut komunitas dan kolektor, harga radio antik sangat bervariasi, bahkan dapat mencapai puluhan juta rupiah tergantung kondisi dan nilai historisnya.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Dewi Kaniasari berharap kegiatan ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan kearsipan pemerintah, komunitas radio, dan pelaku industri penyiaran.
Lebih dari sekadar pameran, acara ini ingin menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap sejarah media dan pentingnya literasi.
Pameran berlangsung hingga hari Minggu dan dibuka gratis untuk umum mulai pukul 10.00 hingga 20.00 WIB.
Di tengah derasnya arus teknologi digital, pameran ini menjadi pengingat bahwa sebelum era streaming dan media sosial, suara radio pernah menjadi jendela dunia bagi banyak orang.
(LIN)
