Perjuangan Perempuan di Balik Kemudi

Katativi.com – Di tengah riuh jalanan Kota Bandung, semangat emansipasi tak hanya hidup dalam buku sejarah. Ia hadir nyata, menyatu dalam keseharian perempuan yang berjuang mengubah nasib. Salah satunya adalah  Mira, seorang driver perempuan yang menjadikan jalanan sebagai ruang perjuangan hidupnya.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Mira pernah berada di titik sulit. Ia mengandalkan jasa antar-jemput anak sekolah dengan penghasilan terbatas. Kebutuhan rumah tangga kerap tak terpenuhi, bahkan biaya sekolah dan cicilan motor sempat tertunda.

Baca Juga: inDrive Siapkan Strategi Penguatan Pasar Indonesia pada 2026

“Dulu penghasilan dari antar-jemput saja itu tidak cukup. Biaya sekolah anak kadang nunggak,” kenangnya.

Keputusan bergabung sebagai driver inDrive pada November 2024 menjadi titik balik. Perlahan, hidupnya berubah. Penghasilan lebih stabil, kebutuhan anak tercukupi, dan beban finansial mulai teratasi.

“Sekarang tidak ada tunggakan lagi. Kebutuhan anak juga tercukupi,” ujarnya.

Bekerja di jalanan bukan tanpa tantangan. Rasa khawatir soal keamanan hingga stigma sempat ia rasakan. Namun, tanggung jawab sebagai ibu membuatnya tetap melangkah.

Baginya, menjadi driver bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah bentuk keberanian keluar dari batasan.

“Perempuan harus kuat dan berani. Kita juga bisa mandiri, apalagi untuk keluarga,” tuturnya.

Fleksibilitas kerja menjadi alasan Mira bertahan. Ia bisa mengatur waktu, tetap hadir untuk anak-anak, tanpa meninggalkan pekerjaan. Sistem yang memberi kebebasan memilih order dan potongan komisi rendah juga membuat penghasilannya lebih optimal.

“Potongannya kecil, jadi penghasilan lebih terasa,” jelasnya.

Di balik kemudi, Mira tak hanya mengantar penumpang. Ia sedang mengantarkan masa depan keluarganya menuju kehidupan yang lebih layak.

Baginya, semangat Kartini bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah keberanian untuk memilih jalan hidup sendiri—dan terus melaju, meski jalan tak selalu mudah.