Katativi.com – Wajah masa depan kebudayaan Nusantara kini tampil lebih modern dan berbasis data. Bertempat di Ruang Savoy 3, Hotel Savoy Homann, Bandung, sebuah langkah besar diambil untuk menjaga warisan leluhur melalui teknologi digital
Pada Sabtu (20/6), lembaga BESTDAYA (Bengkel Studi Budaya) dan Bandung Fe Institute resmi menandatangani Nota Kesepakatan Kerja Sama (MoU) untuk mengembangkan sistem informasi pengetahuan budaya.
Baca Juga: Fenomena Dua Kali Gerhana di Kalender Sunda, Budayawan Lakukan Ritual Tolak Bala
Kolaborasi ini mengusung tema besar “Pengembangan, Pengelolaan, dan Pemanfaatan Sistem Informasi Pengetahuan Budaya, Kalender Sunda Digital, Sukra Kala, dan Pusat Pengetahuan Waktu Nusantara” .
Menariknya, acara ini digelar bertepatan dengan momentum Tumpek Kaliwon Kartika 1963 Caka Sunda. Dalam tradisi agraris Nusantara merupakan bulan orientasi atau “bulan bintang” sebagai penunjuk arah.
Penandatanganan ini tidak hanya sebagai prosedur formal belaka. Prosesi ini sebagai Ngalungsur Ajén Karuhun ini menjadi simbol bahwa setiap inovasi teknologi harus tetap berpijak pada akar etika dan kebijaksanaan masa lalu.
“Dina mangsa Tumpek Kaliwon Kartika ieu urang ngumpul lain ukur pikeun nandatanganan hiji dokumén, tapi pikeun nandatanganan jangji ka mangsa hareup,” ungkap ketua Best Daya Miranda H Mihardja.
Menurut Miranda, pentingnya menjaga ilmu pengetahuan agar tidak terputus oleh zaman. Namun juga beradaptasi dengan teknologi kekinian yang berfungsi “menghidupkan kembali” pengetahuan tradisional.
Dalam perspektif kerja sama ini, lanjutnya, filosofi yang diusung sangat mendalam. Karuhun memberi akar, teknologi memberi sayap.
“Ini berarti kebudayaan tidak lagi hanya menjadi objek nostalgia yang tersimpan di museum, melainkan bertransformasi menjadi sumber inovasi bagi generasi digital,” tegas Miranda
Inovasi yang Dikembangkan
Sementara itu, Perwakilan FE Institute Dadan Suhanda mengatakan, kerja sama strategis ini mencakup beberapa poin utama yang akan digarap bersama. Kerja sama tersebut antara lain:
- Kalender Sunda Digital: Transformasi sistem penanggalan tradisional ke dalam platform modern.
- Sukra Kala: Pengembangan kajian mengenai temporalitas atau konsep waktu Nusantara.
- Pusat Pengetahuan Waktu Nusantara: Sebuah wadah riset, dokumentasi, dan pendidikan untuk literasi budaya berbasis teknologi.
“Melalui Bandung Declaration on Cultural Knowledge and Nusantara Time Studies,” kedua belah pihak berkomitmen untuk menggunakan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan masyarakat luas, ” ungkap Dadan.
Acara ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Andri Perkasa Kantaprawira dari Majelis Musyawarah Masyarakat Sunda dan perwakilan dari berbagai lembaga adat serta akademisi.
Dengan motto kegiatan Ngariksa Pangaweruh Karuhun, Ngawangun Mangsa Hareup” (Memelihara Pengetahuan Leluhur, Membangun Masa Depan), kolaborasi ini harapannya mampu membangun infrastruktur intelektual jangka panjang yang membuat budaya Nusantara tetap relevan dan bermartabat di tengah percepatan teknologi dunia. (Imn)

