KATATIVI.COM — Telkom University bersama Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia memperkuat kapasitas seniman Jelekong, Kabupaten Bandung, melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Pendanaan 2026.
Program memperoleh dana dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI itu menghadirkan tiga workshop sepanjang Juli 2026.
Baca Juga: Telkom University Dukung Keberlanjutan Tenun Ikat Sumba Timu melalui Implementasi e-Katalog
Ketua Pelaksana PISN 2026 Telkom University, Iqbal Prabawa Wiguna, mengatakan seniman kini tidak hanya mendapat tuntutan menghasilkan karya. Mereka juga perlu membangun identitas, mendokumentasikan proses kreatif, berkomunikasi dengan publik, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
“Jelekong memiliki tradisi seni lukis yang kuat dan diwariskan lintas generasi. Melalui program ini, kami ingin membantu para seniman mengembangkan kemampuan baru tanpa meninggalkan karakter dan kekuatan seni yang sudah menjadi identitas Jelekong,” ujar Iqbal.
Jelekong terkenal sebagai salah satu sentra seni lukis di Kabupaten Bandung. Perkembangan media digital dan kecerdasan buatan (AI) membuat seniman perlu beradaptasi agar karya mereka dapat menjangkau publik dan pasar yang lebih luas.
Tiga Workshop untuk Seniman Jelekong
Workshop pertama, “Branding Karya dan Storytelling Seniman”, berlangsung pada 9 Juli 2026 dengan pemateri Raphael Rumahloine.
Peserta belajar menggali identitas personal sebagai seniman, mulai dari purpose, autentisitas, signature style, penyusunan profil. Sesi ini pun mengasah kemampuan menceritakan proses kreatif di balik sebuah karya.
Materi storytelling juga mengangkat pengalaman personal, lingkungan Jelekong, kehidupan studio, pilihan tema, teknik melukis. Begitu pun proses mencoba dan gagal sebagai bagian dari cerita yang dapat memperkuat identitas seniman.
Evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta. Sebelum workshop, 61,9 persen responden mengaku pernah mendengar istilah branding seniman. Namun mereka belum memahaminya dengan baik. Sementara 19 persen belum pernah mendengar istilah tersebut. Setelah workshop, 94,1 persen responden menilai pemahamannya berada pada tingkat 4–5 dalam skala 5.
Pada workshop kedua, “Marketing, Implementasi AI, dan Etika Penggunaannya”, berlangsung pada 16 Juli 2026. Pada sesi ini pemateri Rajiv Dharma Mangruwa dan Iqbal Prabawa Wiguna.
Sesi ini peserta mempelajar dan i pemanfaatan AI untuk mendukung pemasaran dan produksi konten. Seperti menyusun caption, mengembangkan ide visual, merancang konten, dan mengenali karakter audiens.
Program ini juga memperkenalkan peluang pasar yang lebih luas bagi karya seniman, termasuk hotel, vila, kafe, restoran, perkantoran, wisatawan, kolektor pemula, komunitas kreatif, hingga konsumen dekorasi rumah.
Namun, penggunaan AI tetap diarahkan pada prinsip etika. Peserta mendapat penjelasan untuk mencantumkan sumber, mendokumentasikan proses kreatif. Begitupu dalam menyimpan prompt dan sketsa, serta menjelaskan kontribusi manusia dalam penciptaan karya.
Workshop ketiga, “Seni Hari Ini – Apa Saja Bisa Menjadi Karya”, berlangsung pada 23 Juli 2026 dengan pemateri Vincent Rumahloine.
Workshop ini memperkenalkan konsep media baru dalam seni sekaligus menjadi bagian dari persiapan Pameran Imersif Warisan Maestro Abah Odin yang direncanakan berlangsung pada September 2026.
Peserta mengeksplorasi penggunaan proyektor, digital imaging, video, suara, cahaya, QR Code, sensor, hingga AI. Teknologi sebagai medium tambahan untuk memperluas cara menciptakan dan menyajikan karya, bukan menggantikan keterampilan melukis yang menjadi fondasi seni Jelekong.
Praktik Pengembangan Konsep
Dalam sesi praktik, peserta bekerja dalam kelompok untuk mengembangkan konsep pameran. Mereka menentukan tema, mengidentifikasi karakter karya, memilih teknologi yang sesuai, dan mempresentasikan konsep dengan mempertimbangkan aspek artistik, teknis, serta ruang pamer.
Iqbal mengatakan ketiga workshop tersebut dirancang sebagai rangkaian yang saling melengkapi.
“Branding membantu seniman mengenali identitas dan pesan karya, marketing dan AI memperkuat kemampuan komunikasi serta pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, sedangkan media baru membuka kemungkinan baru dalam penciptaan dan penyajian karya,” katanya.
Ia berharap pengetahuan bagi peserta dapat diterapkan dalam pengembangan karya, komunikasi dengan publik, pemasaran, hingga persiapan pameran.
“Yang paling penting, perkembangan teknologi tetap berjalan berdampingan dengan karakter dan tradisi seni Jelekong,” ujar Iqbal.
Melalui PISN 2026, Telkom University dan Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia mendorong terbentuknya ekosistem pembelajaran yang mempertemukan tradisi seni, kreativitas, teknologi, dan kebutuhan publik.
Program ini sekaligus menjadi upaya mempersiapkan seniman Jelekong agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas seni yang diwariskan dari generasi ke generasi.
(Man)