Kamis, Mei 23, 2024
spot_img
BerandaBlitzPerajin Wayang Golek Toto Hadiyanto Tetap Bertahan di tengah Karakter Pahlawan Impor

Perajin Wayang Golek Toto Hadiyanto Tetap Bertahan di tengah Karakter Pahlawan Impor

KATATIVI.COM: Perajin wayang golek Toto Hadiyanto tetap percaya diri dan optimistis dengan karakter-karakter wayang golek yang dibuatnya. Pria 58 tahun yang sudah 33 tahun menjadi pembuat wayang golek itu mengaku senang menjalani rutinitasnya.

Di tengah gempuran budaya dan karaktor tokoh pahlawan impor, Toto tidak mengeluhkan sepinya peminat wayang golek. Terlebih dirinya membuat wayang tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian budaya lokal.

Di Kota Bandung, lelaki asal Karang Pawulang, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung ini menjadi salah satu perajin yang tersisa di Kota Kembang.

“Saya belajar membuat wayang golek secara autodidak. Awalnya karena hobi terus cari kerja susah, akhirnya jadi perajin,” kata Toto saat ditemui di rumahnya, awal pekan ini.

Jenis wayang yang sering dia buat yaitu Pandawa Lima dan Panakawan. Menurutnya, kedua wayang tersebut paling diminati atau paling banyak dipesan oleh konsumen.

“Karakter Panakawan yaitu Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng paling laku,” katanya.

Harga wayang golek yang Toto buat disesuaikan dengan ukuran. Ada 4 ukuran yang dibuatnya yakni ukuran 50 cm, 40 cm, 30 cm, dan 20 cm.

Toto menjual mulai dari Rp30.000 untuk ukuran paling kecil 20 cm. Sedangkan ukuran paling tinggi yaitu 50 cm dibanderol Rp200.000-300.000 untuk satu wayang.

Toto kerap menerima pesanan dari konsumen di luar ukuran, misal gantungan kunci atau untuk souvenir.

Rata-rata dalam seminggu, ia bisa menyelesaikan 30 – 40 wayang. Dalam membuat wayang golek, ia dibantu sang istri yang bertugas membuat pakaian wayang.

“Setiap hari tidak tentu dan bagaimana pesanan juga. Paling tidak 30-40 per minggu ada untuk berbagai ukuran wayang golek,” ujarnya.

Ia mengatakan, wayang golek miliknya pernah dikirim ke luar kota seperti Cikarang, Banten dan Karawang, bahkan ke luar pulau Jawa.

“Tapi membuat wayang ini tidak setiap hari juga, kadang sepi. Banyaknya yang beli itu untuk galeri, sampai dari berbagai daerah datang untuk membeli,” ujar dia.

Kini, sang putra juga telah mengikuti jejaknya menjadi perajin Wayang Golek. Ia berharap semakin banyak perajin yang bermunculan, hal ini kata dia, untuk regenerasi yang baik.

“Regenerasi agak susah. Karena susah mengukir, banyak menyerah dalam belajar. Semoga semakin banyak yang tertarik menjadi perajin,” harapnya. (ROB/ISN)**

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments